Jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta

Salah satu hal yang menyenangkan bagiku adalah berkunjung ke sebuah museum. Entah kenapa, dari dulu aku cukup excited jika ada temanku yang mengajakku, atau temanku yang mengiyakan ajakanku. Mungkin bagi sebagian orang museum terdengar kuno, dan berpikir mau ngapain kalo kesana. Tapi menurutku, museum jadi salah satu tempat untukku belajar sejarah negara kita yang mungkin aku belom tau selama ini. Walaupun ya kenyataannya pun setelahnya aku akan lupa persisnya seperti apa, tapi sebagian kepingan memori tentangnya akan tetap ada dalam pikiranku.

Well, akhir oktober kemarin setelah aku menjelejahi wisata pecinaan Glodok, aku bersama temanku berkunjung ke kota tua Jakarta; tentunya ya museum Fatahillah! Senangnya bukan main! Nah yaa sesederhana itu kan ternyata bahagia? Hehe dan karena pun masih sepi, jadi cukup leluasa untuk bisa kesana kesini tanpa ragu karena tak ada sekumpulan manusia didalamnya.

Untuk masuk ke museum, tentunya wajib meng-scan barcode pada aplikasi peduli lindungi, kemudian bayar untuk tiket masuknya. Tiketnya pun ternyata masih murah! Untuk pelajar/mahasiswa sebesar Rp 3000 dengan menunjukkan kartu pelajar/mahasiswa, dan untuk umum sebesar Rp 5000. Untuk membeli tiket masuk museum, sekarang ini harus menggunakan kartu jakCard/ jak-lingko. Nah buat yang belum punya, bisa membeli terlebih dahulu di lokasi sebesar Rp 35.000 dengan isi saldo Rp 20.000 didalamnya.

Mengexplore Museum Fatahillah ini cukup menyenangkan dan menghibur diri! Apalagi setelah sekian lama aku tidak ke museum lagi karena sibuknya rutinitas bekerja. Seruuu!

Museum Fatahillah



Selain ke museum Fatahillah, aku dan temanku juga masuk ke museum Wayang. Ya tentunya isi didalamnya tentang perwayangan yang ada di Indonesia dongg!

Sisanya, aku berjalan dari ujung ke ujung menyusuri kota tua Jakarta di bawah sinar matahari yang menyengat.

Overall, perjalanan kali ini memang sangat sederhana. Tapi bagiku menyenangkan! Nah untuk nextnya kira kira kemana lagi yaa? sharing pengalaman kamu yuk!

Cheers,

Jastitahn

Menjelajah Wisata Pecinaan Glodok

Glodok terkenal dengan kawasan pecinaan atau Chinatown-nya Jakarta. Sebagai salah satu kawasan pecinan tertua di Jakarta, ada banyak hal-hal menarik yang bisa kamu kunjungi dan lakukan untuk menyusuri keunikan pecinan Jakarta ini loh!

Pantjoran Tea House

Ada restoran bernuansa Tionghoa kental bernama Pantjoran Tea House. Menurut info, gedung ini dulunya adalah apotek bernama Aphoteek Chung Hwa saat Jakarta masih bernama Batavia. Nah yang unik dari tempat yang sekarang berupa restoran ini adalah enam teko teh di depan pintu masuk. Restoran ini memiliki interior yang vintage dan keren banget. Lantai bermotif, lampu-lampu bohlam yang menggantung rendah, dan lukisan kawasan Glodok jadul membuat tempat ini nyaman dan adem ditongkrongi berjam-jam.

Pantjoran Tea House
Photo from Google

Pasar Petak Sembilan

Ada namanya pasar petak sembilan. Pasar ini dihias dengan pernak-pernik lampu lampion merah didepannya. Tidak hanya sebagai pasar pada umumnya, disini ada banyak toko yang menyediakan peralatan untuk ibadah umat Buddha dan Konghucu, yang dimana kita bisa mencium bau khas aroma Hio, toko obat tradisional dan macam-macam makanan. Disinipun ada jual makanan-makanan “aneh” yang sepertinya tidak kita dijumpai di daerah Jakarta, seperti jeroan babi, timun laut, lintah laut, sampai….. katak segar!

Vihara Dharma Bhakti

Vihara Dharma Bakti yang adalah wihara tertua di Jakarta. Disebut juga sebagai kelenteng Kim Tek Le dan sekarang usianya sudah lebih dari tiga abad. Ketika berkunjung ke vihara ini, terdapat berbagai ukiran, patung dan lukisan yang akan menyambutmu. Setiap sudutnya tidak boleh luput kamu jelajahi karena penuh dengan karya seni.

Vihara Toa Se Bio

Vihara Toa Se Bio sudah dibangun sejak 800 tahun lalu. Terlihat dari kesederhanaan bangunannya yang masih terlihat kuno. Meskipun terlihat sangat sederhana, tapi ketika Imlek, kelenteng ini pasti ramai akan pengunjung.

Gang Gloria

Di kawasan Petak Sembilan Glodok, ada sebuah gang, namanya gang Gloria. Gangnya sempit karena banyak kedai makanan di sana. Namun katanya makanannya enak-enak! Ada Bakmi Amoy yang sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu, Es Kopi Tak Kie yang legendaris, dan lainnya. Nah aku mencoba Es Kopi Tak Kie ini, yang kabarnya jadi salah satu es kopi paling terkenal seantero Jakarta, lho. Selain karena sudah berdiri sejak 1927, rasa kopinya memang tak perlu diragukan lagi. Enak! Kalau lihat dari foto-foto yang terpajang, kedai es kopi ini memang tidak berubah sejak zaman dulu.



Nah, jelajah wisata kali ini cukup seru. Ditambah lagi, kita mencoba beberapa kuliner non-halal yang tersedia di pinggir jalan. Kita coba cempedak goreng cik lin, makanan vegetarian dan juga es kopi tak kie. Nextnya kemana lagi yaa?


Cheers,

Jastitahn