Pasar Baru Walking Tour

Berjalan-jalan sambil belajar mengenai sejarah gedung/tempat yang dilewati adalah salah satu hal yang menyenangkan. Setelah sebelumnya melakukan walking tour ke Glodok dan Menteng, keinginan ku untuk melakukan hal seperti ini lagi semakin bertambah. Beberapa kali research untuk menemukan rute rute yang bisa di jelajahi. Ternyata banyak sekali kawasan di Jakarta yang memiliki nilai sejarah dan cocok untuk di coba. Nah kali ini, aku bersama temanku melakukan walking tour ke Pasar Baru. Yeayyy!

Apa yang bisa kita lihat di kawasan Pasar Baru ini?

Waah ternyata cukup banyak! Dari mulai sekolahan, kantor berita, tempat ibadah dan lainnya. Berikut ini perjalanan walking tour ku di Pasar Baru.

1. Stasiun Juanda

Titik awal untuk walking tour Pasar Baru adalah Stasiun Juanda. Stasiun Juanda adalah stasiun KRL yang melayani jalur Jakarta Kota-Bogor, yang mulai beroperasi pada tahun 1992. Kamu pasti sudah tau kalau Stasiun ini memiliki warna khas biru yang menyegarkan mata.

Stasiun Juanda

2. Sekolah Santa Ursula

Dari stasiun Juanda, kamu bisa berjalan ke arah timur untuk melihat sekolah Santa Ursula. Dulunya sekolah ini adalah sebuah kapel. Pada masa penjajahan Belanda, mereka menyebarkan agama kristen dan mendatangkan 7 Biarawati. Biarawati inilah yang akhirnya menginisiasi terbentuknya sekolah perempuan, yang sekarang bernama Sekolah Santa Ursula.

Sekolah Santa Ursula

3. Gedung Filateli

Disebelah Sekolah Santai Ursula, terdapat sebuah bangunan khas Belanda yang mirip dengan Stasiun Jakarta Kota. Gedung ini dibangun pada tahun 1860-an. Awalnya gedung ini digunakan Belanda sebagai kantor pos dan telegram sebagai alat komunikasi pada masa itu. Namun sejak Indonesia berhasil merebut kemerdekaan, gedung ini berubah fungsi menjadi Museum Perangko Jakarta atau Gedung Filateli. Seiring berjalannya waktu, kini Museum ini dialihfungsikan menjadi sebuah public space kekinian yang dinamakan Pos Bloc Jakarta.

Gedung Filateli Jakarta

4. Gedung Kesenian Jakarta

Selanjutnya, disamping Gedung Filateli Jakarta terdapat sebuah Gedung dengan gaya art deco. Dimana dalam perjalanannya, gedung kesenian ini banyak merubah nama. Pada tahun 1809, gedung ini bernama Mini Simple Theater yang pada waktu itu masih beratapkan rumbia. Lalu, berganti nama lagi menjadi Showburg. Setelah Jepang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1943, gedung ini dijadikan sebagai markas angkatan darat, sehingga banyak terjadi kerusakan gedung bahkan kehilangan patung-patung di dalamnya. Sayang banget ya! Tapi setelah Jepang pergi, gedung ini kembali dijadikan gedung pertunjukan dengan nama Gedung Kesenian Jakarta.

Gedung Kesenian Jakarta

5. Galeri Foto Jurnalistik Antara

Setelah melihat gaya arsitektur Gedung Kesenian Jakarta, kamu perlu menyebrang melalui jembatan penyebrangan yang berada disebelah halte Trans Jakarta Pasar Baru. Namun tidak jauh dari gerbang belakang Pasar Baru, ada sebuah Galeri yang merupakan Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Sebelum menjadi Galeri Foto Jurnalistik Antara, dulunya galeri ini dijadikan sebagai Kantor Berita Antara yang dinasionalisasi dalam melakukan penyebaran berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Kemudian gedung ini diresmikan menjadi sebuah galeri yang didalamnya terdapat berbagai koleksi, seperti foto, buku, hingga benda-benda bersejarah seperti mesin tik dan sepeda pada tahun 1992.

Kalau beruntung, biasanya galeri ini menampilkan karya karya dari para Jurnalistiknya Antara dalam periode tertentu.

Baca juga: Bandung Walking Tour

6. Pasar Baru

Siapa sih yang gatau Pasar Baru? Dulunya kawasan Pasar Baru ini merupakan kampung orang-orang India. Tapi semenjak Belanda mendatangkan etnis Tionghoa dari Macau untuk menghidupkan sektor ekonomi di Batavia, peradaban India lama-lama memudar.

Pasar Baru pada masanya adalah pusat perbelanjaan kaum elite. Ibaratnya kalau mau dianggap sosialita, belanjanya harus di Passer Baroe. Biasanya pelanggan di Pasar Baru adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Weltevreden. Pada gerbang Pasar Baru terdapat angka 1820 yang menandakan tahun berdirinya pusat perbelanjaan ini. Toko-toko di sini dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa.

Memasuki Pasar Baru ini, banyak terdapat  bangunan bersejarah, seperti Toko Kompak, toko sepatu Toronto dan Canada, toko sepatu Sin Lie Seng, Klenteng Sin Tek Bio, gedung bekas tempat produksi jamu Nyonya Meneer, hingga kuliner yang legendaris.

Pasar Baru

7. Gereja Pniel

Masih di kawasan Pasar Baru, ada sebuah Gereja tua yang dibangun sejak tahun 1913 – 1915. Gereja ini dinamakan Gereja Pniel atau disebut juga Gereja Ayam. Kok dinamakan Gereja Ayam? Iyaa, karena dipuncak kubahnya terdapat petunjuk arah mata angin dengan simbol ayam. Gereja ini merupakan perluasan dari kapel kecil yang sudah ada sejak 1850.

Gereja Pniel

Nah, begitulah kira-kira rute walking tour Pasar Baru. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Mungkin lain kali akan ku coba eksplor lebih dalam lagi. Tertarik kah kamu untuk mencobanya? Atau sudah pernahkah kamu mencoba walking tour di kotamu? Sharing yuk! Selamat menjelajah~

Cheers,

Jastitahn

Advertisement

La Riviera PIK 2, Kawasan Pertokoan Bernuansa Eropa

Belakangan ini, Pantai Indah Kapuk menjadi sorotan masyarakat dalam berbagai pembangunan yang terkesan mewah. Bagaimana tidak, di kawasan ini kita bisa melihat gedung-gedung megah menjulang, perumahan mewah, jembatan penghubung antara Jakarta dan Tangerang, sekolah besar nan megah hingga mall sekalipun. Infrastruktur yang dibangun memiliki pesona tersendiri. Ada juga keindahan Pantai Pasir Putih yang kini menjadi tujuan wisata ketika berkunjung kesini.

Kawasan ini banyak memiliki spot-spot menarik yang mampu menghipnotis masyarakat. Apalagi mulai disediakannya Ruang Terbuka Hijau dan banyaknya pilihan kuliner dan restoran instagramable yang seakan tak ada habisnya, seperti di Cove at Batavia. Baru-baru ini, ada salah satu tempat yang aku kunjungi di kawasan PIK. Tempat ini cukup membuatku terkesima dan seakan membawaku menghayal berada dalam vibes Eropa yang hangat. Ya, nama tempatnya adalah La Riviera.

Tentang La Riviera

La Riviera adalah sebuah Rumah Toko alias Ruko yang didesain dengan gaya ala ala seperti di Belanda. Ruko-ruko tersebut dirancang dengan arsitektur khas Eropa yang berjejer rapi dan sangat instagram-able. Bahkan ditengahnya pun dilengkapi dengan kanal atau sungai yang membelah dua area ruko beserta jembatan diatasnya. Di sungai ini juga, kita bisa mencoba wahana perahu atau bebek-bebekan. Wah benar-benar serasa di Eropa bukan?


Daya tarik lainnya di La Riviera baru baru ini adalah adanya event PIK WonderFest yang menyajikan berbagai kuliner gerai makanan dan minuman khususnya sate, yang bisa di nikmati. Katanya PIK WonderFest ini akan dijadikan annual event yang menghadirkan berbagai konsep kuliner, fashion, musik, dan lainnya. Namun aku tidak mengetahui pastinya, apakah gerai kuliner pun akan tetap bisa meramaikan tempat ini atau tidak ketika event tersebut berakhir.

Alamat La Riviera

Kawasan La Riviera sudah termasuk kedalam provinsi Banten, karena letaknya yang sudah melewati Jembatan Penghubung Jakarta – Banten, tepatnya berada di Teluknaga, Lemo邮政编码:, 15510.

Waktu Operasional La Riviera

Karena La Riviera ini merupakan kawasan Ruko, sehingga tidak ada jam buka yang ditetapkan. Namun akan lebih baik jika kamu datang ke lokasi ini pada waktu pagi hari pukul 06.00 – 10.00 atau sore hari, sekitar pukul 16.00 – 17.00. Kamu akan melihat moment matahari terbenam di ujung sana dan akan membuat foto mu lebih bercahaya dan dramatis.

Cara Menuju La Riviera

Sebenarnya belum ada transportasi publik yang melewati kawasan PIK, sehingga akan lebih baik jika menggunakan kendaraan pribadi agar lebih efisien. Namun apabila kamu menggunakan transportasi publik, maka:

  1. Kamu bisa turun di Stasiun Rawa Buaya ataupun Stasiun Jakarta Kota. Jarak tempuh dari kedua stasiun ini kurang lebih hampir sama.
  2. Jika dari Stasiun Jakarta Kota, bisa di lanjut dengan menaiki Trans Jakarta 1A (Balai Kota – Pantai Maju) arah Pantai Indah Kapuk (PIK) pada halte busway Kota yang mengarah ke utara di seberang Museum Bank Mandiri. Selanjutnya, kamu bisa turun di halte busway PluitPantai Indah Kapuk (PIK), atau Pantai Maju. Dan meneruskan kembali perjalanan menggunakan Ojek Online.
  3. Jika dari Stasiun Rawa Buaya, maka kamu bisa meneruskan perjalanan menggunakan Trans Jakarta koridor 9 arah Pluit. Lalu turun di halte busway Penjaringan untuk transit naik bis TransJakarta 1A.

Kesimpulan

Berkunjung ke La Riviera ini menjadi salah satu tujuan wisata yang bisa dilakukan di kala weekend. Kamu bisa sedikit merasakan suasana ala eropa yang mengagumkan dan menikmatinya bersama keluarga ataupun teman. Yuk rencanakan weekend mu ke kawasan PIK! Selamat jalan-jalan~

Cheers,

Jastitahn