Mengajar di Pedalaman Lebak Banten

Lima tahun lalu, tepatnya di April 2017 aku pernah ikut salah satu programnya komunitas Traveling and Teaching Tangerang, yaitu mengajar anak-anak di pedalaman Lebak, Banten.

Saat itu kalau tidak salah kami kurang lebih berjumlah 25 orang. Bertemu di meeting point pada malam hari, yaitu di Stasiun Tangerang. Kebetulan aku kesana bersama Eka, salah satu sahabatku sejak masa sekolah.

Perjalanan dimulai pada pukul 21.00 dengan menaiki sebuah tronton. Ini adalah pertama kalinya aku naik tronton dan cukup seru namun membuatku pusing karena jalanannya yang berkelok-kelok. Sampai kita berhenti sekitar jam 4 pagi, karena sudah dekat. Kami berhenti untuk melaksanakan sholat subuh dan sarapan seadanya. Nah barulah petualangan disini dengan berjalan kaki melewati berbagai jalanan yang cukup ekstrem sampai dengan sekolah yang ingin kita tuju, yaitu SD Sorongan 2 Kelas Jauh, Kecamataan Cibaliung, Banten.

Karena jumlah kami yang datang juga cukup banyak, kami di bagi menjadi beberapa kelompok. Dan aku masih inget, saat itu aku kebagian kelompok 3. Tujuan pembagian kelompok ini yaitu untuk berdiskusi apa yang ingin kami perkenalkan atau kami ajarkan kepada anak-anak disana.

Ohyaa, kita disini ngajar anak-anak SD yaa! Karena lokasinya yg menurutku memang ini berada di pedalaman, harus melewati hutan dulu, bahkan tidak ada lampu penerangan jalan kala itu. Jumlah muridnya pun terbilang sedikit. Mungkin sekitar 20 – 30 orangan, yg dimana itu sudah menyatakan dalam jumlah kelas 1 sampai kelas 6.

Saat itu kami mengajarkan pancasila, menyanyi lagu kebangsaan bersama, melihat peta Indonesia dan berbagai hal lainnya. Aku sangat menikmati proses pengajaran ini. Karena sejujurnya sewaktu kuliah dulu, aku mengajar les privat. Jadi bukan hal baru untukku dalam kegiatan mengajar. Walaupun hanya sebentar, tapi aku cukup senang karena bisa membagikan ilmu kepada mereka. Yaa, setidaknya sedikitnya mereka akan mengingatnya.

Bahkan kalau bisa mengulang waktu, sepertinya aku ingin menjadi Guru! Biar bisa sharing ke anak-anak dan membantu mencerdaskan kehidupan bangsa 🙂 Mulia sekali pekerjaannya. Tapi, apapun profesiku saat ini aku ingin terus berbagi cerita dengan orang lain!

Guru itu bagaikan lilin.
Membakar diri untuk menerangi orang lain,

Ohya aku pun tidak lupa untuk mencoba akrab dengan teman-teman lainnya. Mereka memiliki jiwa sosial yang keren! Dan mengikuti kegiatan ini jadi salah satu healing mereka.

Karena namanya adalah traveling and teaching, jadi besok harinya kami pergi berwisata. Yappp aku sempet lupa nama pulaunya apa. Tapi Eka mengingatkanku kalau kami pergi ke Pulau Oar Banten. Menaiki boat kapal dan bermain main di pantai juga melepas penat yang ada. Sayang banget dokumentasiku yg tersisa hanya sedikit.

Pengalaman ku ikut kegiatan ini jadi salah satu hal yang selalu ku kenang sampai saat ini. Semoga aku bisa terus meneruskan kebaikan-kebaikan ini dalam suasana berbeda. See you!

Cheers,

Jastitahn

Perjalanan ke Suku Baduy yang Tak Terlupakan!

Kesibukan kita dalam bekerja, kadang membuat kita lupa bahwa kita butuh yang namanya refreshing; rehat sejenak, dari hiruk-pikuk ibu kota. Minggu lalu, akhirnya aku memustuskan untuk meng-explore suku baduy bersama backpacker jakarta. Cukup excited dengan perjalanan kali ini, karena dari dulu aku ingin mengetahui bagaimana kehidupan yang dijalani oleh orang baduy ini, selain itupun aku juga pergi bersama orang orang tersayang.

Perjalanan dimulai dari meeting point di stasiun Rangkas Bitung. Aku berjumpa dengan teman-teman trip yang mostly tinggal di jabodetabek. Mereka semua asik & seru! Sehingga aku pun tidak merasa takut untuk bisa mengobrol dengan mereka. Dari stasiun rangkas bitung, kami naik elf sampai ke desa Kanekes yang kira-kira ditempuh selama 2 jam. Jalanannya super sekali, bikin pusing dan mual haha

Setelah sampai, barulah kami memulai trekking ke kampung suku Baduy Dalam. Ohya di Baduy Dalam terdapat beberapa kampung, salah satunya adalah Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Kami akan menginap di Kampung Cibeo. Yang kurang lebih kami tempuh sekitar 1,5 jam. Trekking ini melewati jalanan yang beraneka ragam seperti bebatuan, tanah coklat, tanah merah, tanah berlumut, melewati dua jembatan yang terbuat dari bambu, yang dibawahnya mengalir sungai yang sangat vital dalam kehidupan masyarakat Cibeo sehari-hari. Tentunya juga disuguhkan dengan pemandangan yang cukup indah. Langit biru yang membentang, pepohonan disepanjang jalan yang menyegarkan mata.

Bentuk rumah warga Cibeo kalau dibandingkan dengan rumah di Baduy Luar mempunyai kemiripan.  Terbuat dari kayu, anyaman bambu atau rotan, dan atapnya dari ijuk yang dikeringkan. Yang membedakannya adalah tidak ada sama sekali paku yang digunakan, jadi untuk menguatkan struktur rumah warga mengikatnya dengan anyaman dan menggunakan pasak sebagai penopang. Daun pintu yang digunakan juga sangat tradisional tidak menggunakan engsel.

Tentunya setelah sampai di lokasi, kami semua sangat ingin membasuh badan karena sudah lengket dengan keringat. Untuk laki-laki semuanya mandi di sungai, sedangkan untuk perempuan tersedia sebuah bilik air mancur sebagai tempat mandi. Karena segala jenis sabun tidak diperbolehkan jadinya mandi ala kadarnya, yang penting basah dan airnya segar.

Malam harinya suasana desa sangat gelap karena tidak ada listrik sama sekali. Kegiatan diisi dengan makan malam dan bertanya-tanya tentang kehidupan di Suku Baduy juga quality time dengan teman-teman trip. Di Kampung Baduy Dalam mempunyai tetua adat yang dikenal dengan Pu’un yang dibantu oleh wakilnya yaitu Jaro. Jika warga Baduy Dalam melanggar ketentuan adat hukumannya bisa sampai dikeluarkan dari Baduy Dalam.

Ohya di kampung Baduy Dalam ini, kami semua tidak diperbolehkan untuk memotret apapun. Sehingga foto-foto yang kami abadikan adalah foto perjalanannya dan foto di Baduy Luar saja.

Udara disana menurutku tidak terlalu dingin dan kami memakai 2 rumah untuk bermalam, khusus laki-laki dan perempuan.

Paginya, kami sudah bersiap untuk kembali. Iyaa, maksudnya kembali ber-trekking ria melalui jalur Ciboleger, yang dimana melewati kampung Baduy Luar! Dan disinilah trekking yang cukup lama kami tempuh, yaitu sekitar 6,5 jam ditambah juga dalam perjalanan diguyur hujan deras, sehingga jalanan pun menjadi basah, becek dan licin. Kami sangat hati-hati dalam melangkahkan kaki kesini. Bahkan aku sendiri pun terjatuh karena terpeleset di tanah merah hahaha pengalaman yang mengesankan!

Kami beristirahat untuk isoma di kampung Gazebo suku Baduy Luar. Kampung Gazebo ini cukup terkenal oleh pengunjung, karena biasanya jika explore Baduy Luar akan bermalam disini.

Dan disini ada namanya jembatan Gazebo, yaitu jembatan terpanjang yang ada di suku Baduy Luar.

Jembatan Gazebo
Jembatan Gazebo Suku Baduy

Setelah kami beristirahat untuk makan siang di kampung ini, kemudian melanjutkan kembali perjalanan sampai dengan ke Ciboleger. Selesai yeayy!



So far, perjalanan kali ini sangat mengesankan. Membawa pengalaman yang cukup unik, bertemu dengan teman-teman backpacker yag seru dan juga menguji kemampuan trekking ku hahah alhasil, oleh oleh dari sini adalah sepatu yg kupakai jebol 🙂 tapi it’s okayyy I’m happy with this trip. See you on the next trip!

Cheers,

Jastitahn