Microlibrary Wayak Kayu, Perpustakaan Unik di Semarang

Buku adalah jendela dunia

Sejak kecil kita pastinya pernah melihat tulisan diatas, yang seakan kalimat itu akan terus ada dibenak kita. Iya, buku adalah jendela dunia. Melalui buku kita bisa mengetahui segala sesuatu tentang indahnya dunia, pengetahuan baru, ilmu baru dan tentunya akan mendapat pelajaran penting lainnya dari buku yang kita baca.

Menumbuhkan minat membaca buku sebenernya sebuah tantangan sendiri bagi setiap orang. Karena semakin dewasa, keinginan untuk membaca kadang kala hilang tergantikan oleh hal lainnya. Padahal saat ini pun sudah tersedia banyak e-book yang dengan mudahnya bisa diakses melalui gadget yang kita miliki. Sayang sekali, minat membaca itu banyak yang hilang, yang bahkan aku sendiri pun juga merasakan kelunturan minat membaca buku, hingga baru belakangan ini mencoba untuk bisa membuka lembaran halaman kembali.

Baca juga: Review Buku: The Power Of Now

Microlibrary Series

Beberapa tahun lalu, aku melihat ada project Microlibrary series yang di desain oleh SHAU Architects. Awal pengerjaan microlibrary ini adanya di Bandung, yang namanya Microlibrary Bima. Waah! Sungguh.. aku sangat terpesona dengan desain yang dibuat. Unik sekali! Aku ingin sekali berkunjung ke microlibrary ini, namun belum nemu waktu yang pas. Sampai akhirnya, aku berkunjung ke Semarang dan ada project Microlibrary Seriesnya mereka disini, yaitu Microlibrary Warak Kayu.

Microlibrary Warak Kayu diinisiasi oleh Arkatama Isvara Foundation (AIF) yang menjadi sponsor dalam pembangunan perpustakaan ini. Microlibrary Warak Kayu merupakan perpustakaan warga pertama di Semarang yang sepenuhnya terbuat dari kayu bersertifikat Forest Stewardship Council (SFC) yang memenuhi prinsip-prinsip hutan berkelanjutan.

Alamat Microlibrary Warak Kayu

Microlibrary ini berada di Semarang, tepatnya di Jl. DR. Sutomo, Barusari, Kec. Semarang Sel., Kota Semarang, Jawa Tengah 50245

Desain Microlibrary Warak Kayu

Microlibrary Warak Kayu terlihat sangat kokoh dan gagah dengan bentuk seperti rumah panggung, memanfaatkan lahan di bawah sebagai ruang bermain dan beraktivitas.

Bangunan ini pun terlihat dominan karena bentuk bangunan yang terbuat dari kayu dengan bentuk banyak lobang yang menyerupai wajik. Selain dari design yang unik, secara fungsipun dijadikan sebagai ventilasi udara. Sehingga tanpa pendingin (AC), para pengunjung tetap akan merasa sejuk karena banyaknya angin yang masuk kedalam ruangan. Selain itu juga berfungsi agar pencahayaan sinar matahari lebih banyak yang masuk ke ruangan.

Pada bagian sisi belakang bangunan, Microlibrary Warak Kayu dikelilingi pepohonan yang lumayan besar dan rindang, sehingga membuat kesan Microlibrary Warak Kayu ini tetap terlihat sejuk dan asri walau berada di perkotaan. Sedangkan di bagian depan halamanya memang difokuskan untuk area parkir sehingga tidak tersedia tanaman.

Saat ingin naik ke lantai atas, Microlibrary Warak Kayu menggunakan tangga yang dimana sisi samping tangga difungsikan sebagai tempat baca dan tempat menaruh sepatu dibagian bawahnya. Dengan dibuatnya tempat baca yang cukup unik ini, menjadikan pengunjung akan merasa lebih nyaman untuk membaca buku disini.

Dilantai atas tentunya tersedia rak buku yang bentuknya dibuat membentuk letter U yang bisa menampung banyak buku. Pada sisi depan dari rak buku tersebut, tidak menggunakan lantai melainkan dibuat menggunakan jaring yang terbuat dari tali yang sangat kuat. Fungsi dari jaring tali tersebut difungsikan sebagai tempat baca dengan suasana yang berbeda, sehingga akan memberikan pengalaman membaca buku yang berbeda bagi pengunjung. Tersedia juga meja dan kursi sebagai spot membaca lainnya.

Penutup

Dengan adanya Microlibrary Warak Kayu ini, semoga minat membaca masyarakat sekitar menjadi lebih baik lagi. Dan aku berharap konsep perpustakaan yang dibangun dengan konsep desain yang unik ini bisa tersebar di berbagai kota di Indonesia. Juga bisa menggerakan hati masyarakat untuk datang ke Microlibrary sebagai tempat untuk membaca dan berekreasi menikmati interior bangunannya.

Cheers,

Jastitahn

Berburu Sunrise di Bukit Sikunir Dieng

Setiap kali perjalanan yang aku lakukan, aku selalu menantikan indahnya sunset di satu tempat. Namun kali ini, aku ingin berburu Sunrise – ya matahari terbit. Dan tempat berburu sunrise yang aku datangi ini adalah salah satu spot terbaik untuk menyaksikan terbitnya mentari di ufuk timur, yaitu Bukit Sikunir.

Bukit Sikunir ini terletak di Desa Sembungan, yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa (2.350 m dpl). Untuk bisa melihat sunrise, aku berangkat pukul 04.00 menuju lokasi. Jarak dari penginapanku ke bukit sikunir kurang lebih 20 menit. Pagi itu sangatlah dingin, angin berhembus seakan masuk ke tulang rusuk. Walaupun tidak berharap banyak, karena malam harinya habis hujan deras. Tapi it’s okay aku dan temanku tetap melangkahkan kaki kesini.

Harga Tiket Masuk Bukit Sikunir

Harga Tiket Masuk Bukit Sikunir adalah Rp.10.000,-/orang.

Perjalanan Mendaki Bukit Sikunir

Ketika sampai di area parkiran, kita perlu berjalan terlebih dahulu kearah yang ditunjukkan hingga bertemu dengan anak tangga. Di sepanjang jalan, banyak warung yang menjual makanan, seperti kentang Dieng yang kecil-kecil yang dimasak dengan bumbu semur, ada juga jajanan khas Wonosobo yang dikenal dengan nama Tempe Kemul. Kalau mau cari makan beratpun, warung-warung di sini juga menjual mie dan nasi goreng. Kita bisa isi perut dan energi dahulu sebelum naik dengan jajan di warung. Setelah itu, barulah perjalanan mendaki Bukit Sikunir dimulai.

Mendaki Bukit Sikunir cukup mudah. Karena sekarang sudah difasilitasi dengan adanya anak tangga yang dibangun oleh warga setempat. Namun kita pun harus hati-hati dalam menginjakkan kaki kita agar tidak terpleset. Kita juga bisa berpegangan pada batang kayu di tangga.

Mendaki Bukit Sikunir hingga atas memerlukan waktu kurang lebih 30 menit. Di tengah bukit pun ada musholah, keren sekali! Kita bisa beristirahat sejenak untuk melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu.

Begitu sampai puncak bukit, langit berwarna indah sekali, sungguh indah! Perpaduan warna biru bercampur ungu, jingga, merah membuat hatiku tenang menatapnya, Ditambah bintang bertaburan yang masih bersinar.

Seperti halnya hidup yang tak selalu berjalan sesuai dengan ekspetasi yang diharapkan. Tapi tetaplah bersyukur atas segalanya.

Jastitahn

Setelah langit terlihat terang, kami kembali lagi menuruni anak tangga dan melanjutkan perjalanan lainnya. Terimakasih Allah, atas segala nikmatmu.

Cheers,

Jastitahn