Dari Gambut hingga Singkong: Belajar Menghargai Alam dan Pangan Lokal

Beberapa hari lalu, aku berkesempatan mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut. Webinar yang berlangsung pada Jumat, 16 Oktober 2026 ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Yoga Aprilliano (Communication Lead – Pantau Gambut) dan Ahmad Arif (Journalist Kompas). Keduanya membahas keterkaitan Karhutla, Biodiversitas dan Pangan.

Jujur, sebelum mengikuti webinar ini, bayanganku tentang gambut tidak jauh dari tanah hitam yang basah dan sulit dimanfaatkan. Aku belum benar-benar memahami betapa pentingnya ekosistem ini bagi kehidupan. Sampai akhirnya, judul presentasi Mas Yoga membuatku berpikir ulang: Peatland Is Not Wasteland.

Gambut Bukan Sekadar Tanah Basah

Indonesia memiliki 24,2 juta hektare gambut, menjadikannya negara dengan ekosistem gambut tropis terbesar di dunia. Namun, ekosistem yang begitu penting ini bisa mengalami kerusakan yang tidak dapat sepenuhnya dikembalikan seperti semula. Ketika tata air dan struktur tanah berubah, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun pun dapat terlepas ke atmosfer. Hal lain yang membuatku terdiam adalah persoalan kebakaran lahan.

Dalam pemaparan Mas Yoga, sepanjang Januari hingga Agustus 2026, tercatat 243.241 hektare lahan terbakar di Indonesia. Lebih dari 157 ribu hektare di antaranya terbakar pada Agustus saja.

Selama ini, kita mungkin sering mendengar El Niño disebut sebagai penyebab kebakaran. Padahal, menurut penjelasan Mas Yoga, El Niño bukan satu-satunya faktor, apalagi penyebab utama. Gambut yang telanjur kering justru menjadi kondisi yang membuat api lebih mudah menyebar.

Aku juga baru tahu bahwa gambut mampu menyerap air hingga 13 kali lebih banyak sedangkan tanah mineral hanya sekitar 0,2 kali. Gambut ibarat spons raksasa yang menyimpan air dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika dikeringkan melalui kanal, kemampuannya menyimpan air berkurang dan risiko kebakaran meningkat.

Belum lagi persoalan pirit, mineral yang relatif aman ketika tetap terendam air. Saat terpapar oksigen akibat pengeringan, pirit dapat membentuk asam sulfat yang menyebabkan tanah menjadi sangat asam dan berpotensi mencemari aliran sungai. Dampaknya bisa merugikan berbagai tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya.

Dari sini aku mulai memahami bahwa gambut bukan sekadar hamparan tanah yang belum dimanfaatkan. Ada air, karbon, dan kehidupan yang bergantung pada kondisinya. Merusaknya berarti mengganggu keseimbangan yang jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.

Ketika Hutan Hilang, Bukan Hanya Pohon Yang Kehilangan Tempat

Sesi Mas Ahmad Arif membawaku pada pertanyaan yang lebih sulit: siapa sebenarnya yang membakar hutan, dan siapa yang paling menanggung akibatnya?

Ia menceritakan kehidupan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Setelah kebakaran hutan pada 2015, masyarakat menghadapi larangan berladang. Padahal, bagi mereka, ladang bukan sekadar tempat menanam padi. Ladang adalah sumber pangan, ruang pewarisan pengetahuan, sekaligus bagian dari identitas budaya.

Ketika tradisi berladang terputus, dampaknya tidak berhenti pada hilangnya tempat bercocok tanam. Ketergantungan terhadap pangan dari luar meningkat, sementara persoalan sosial seperti stunting, anak putus sekolah, dan pernikahan dini turut muncul dalam cerita yang disampaikan.

Kemudian, ada kisah dari Merauke, Papua. Melalui proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate yang dimulai pada 2010, sekitar 1,2 juta hektare tanah dan hutan ulayat Marind-Anim dialokasikan untuk kepentingan korporasi. Ketika hutan dan sumber pangan lokal mereka menghilang, masyarakat justru semakin bergantung pada beras dan mi instan dari luar.

Bagian yang paling membekas bagiku adalah cerita tentang Zanegi, sebuah kampung dengan 637 penduduk. Dalam pemaparannya, hampir setiap keluarga di sana pernah kehilangan setidaknya satu anak, dengan banyak kasus berkaitan dengan persoalan gizi.

Sulit membayangkan bagaimana masyarakat yang sebelumnya memiliki hubungan erat dengan alam dan sumber pangannya sendiri justru harus menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan dasar setelah ruang hidupnya berubah.

Di titik ini, aku merasa persoalannya bukan lagi semata-mata tentang hutan yang hilang. Ini juga tentang cara pandang yang menganggap suatu wilayah tidak memiliki nilai hanya karena kita tidak mengenali kehidupan yang sudah ada di dalamnya.

Singkong: Pangan Yang Dekat, Tetapi Mulai Kita Lupakan

Dari kisah masyarakat adat, pembahasan kemudian beralih ke sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: Isi Piring Kita.

Dalam paparan Mas Ahmad Arif, sekitar 70% kalori masyarakat Indonesia berasal dari beras dan gandum. Indonesia juga mengimpor sekitar 11 juta ton gandum setiap tahun.

Padahal, sejarah pangan kita menunjukkan keberagaman yang jauh lebih besar. Pada 1954, komposisi pangan pokok yang dipaparkan terdiri atas beras sebesar 53,5% singkong 22,26%, jagung 18,9%, dan umbi-umbian lainnya 4,99%.

Sementara itu, data 2017 yang ditampilkan menunjukkan komposisi beras sebesar 74,6% dan gandum 25,4%.

Perubahan angka tersebut membuatku berpikir: bagaimana pangan yang dahulu begitu akrab dalam kehidupan masyarakat bisa semakin tersisih dari meja makan kita?

Aku langsung teringat singkong rebus di rumah. Biasanya, singkong selalu bisa ditemukan sebagai teman minum teh sore atau sekadar pengganjal perut sebelum makan besar. Selama ini, aku menganggap singkong sebagai camilan sederhana. Aku jarang memikirkan bahwa bahan pangan yang begitu dekat denganku pernah menjadi bagian penting dari makanan pokok masyarakat Indonesia.

Semakin kupikirkan, singkong ternyata menyimpan potensi yang jauh lebih besar daripada yang selama ini kubayangkan. Bukan hanya umbinya yang dapat dimakan, bagian lain dari tanaman ini juga memiliki manfaat. Daun singkong, misalnya, bisa diolah menjadi sayur yang akrab dalam berbagai masakan Indonesia. Sementara itu, batangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan stek untuk menanam singkong baru. Dari satu tanaman, kita bisa melihat bagaimana alam menyediakan beragam manfaat, mulai dari sumber pangan hingga bahan untuk memperbanyak tanaman.

Singkong - Karbohidrat Lokal
Singkong – Karbohidrat Lokal

Hal ini membuatku menyadari bahwa mengenal pangan lokal bukan hanya tentang mengetahui apa yang bisa kita makan, tetapi juga memahami bagaimana sebuah tanaman tumbuh, dimanfaatkan, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Menariknya, singkong juga bisa diolah menjadi berbagai makanan dengan rasa dan bentuk yang berbeda. Salah satu yang langsung terlintas di pikiranku adalah getuk. Makanan tradisional ini dibuat dari singkong yang dikupas, direbus atau dikukus hingga empuk, kemudian ditumbuk sampai halus dan dicampur dengan gula serta sedikit garam. Adonan tersebut lalu dibentuk sesuai selera dan biasanya disajikan dengan parutan kelapa. Sederhana, tetapi dari bahan yang sama, singkong bisa berubah menjadi camilan yang manis dan mengenyangkan.

Getuk - Olahan Singkong
Getuk – Olahan Singkong | Sumber Foto: IDNTimes

Selain getuk, ada pula tiwul yang dibuat dari singkong yang dikeringkan dan diolah menjadi bahan pangan, serta tape singkong yang dihasilkan melalui proses fermentasi. Singkong juga bisa diolah menjadi keripik yang renyah atau diolah menjadi berbagai kudapan khas daerah. Keberagaman ini menunjukkan bahwa pangan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama. Dengan pengetahuan dan kreativitas, satu bahan pangan dapat menghasilkan banyak pilihan makanan.

Bagiku, hal ini menarik karena kita sering menganggap makanan tradisional sebagai sesuatu yang sederhana, bahkan terkadang kalah menarik dibandingkan makanan modern. Padahal, di balik sepiring getuk atau singkong rebus, ada pengetahuan tentang cara mengolah hasil bumi, kebiasaan yang diwariskan antargenerasi, dan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitarnya.

Artinya, pilihan sumber karbohidrat selain nasi bukanlah sesuatu yang harus kita temukan dari nol. Kita sudah memilikinya, bahkan sejak lama. Bukan berarti kita harus berhenti makan nasi. Namun, bukankah menarik jika kita mulai memberi ruang bagi pangan lokal untuk kembali hadir di meja makan? Mungkin langkah kecilnya bisa dimulai dengan mencoba kembali makanan tradisional yang selama ini kita kenal, mempelajari cara pembuatannya, atau sekadar memilih singkong sebagai camilan sesekali.

Pangan Lokal Indonesia | Sumber Foto: liquidadventuresindonesia

Diversifikasi pangan bukan hanya soal mengganti satu makanan dengan makanan lain. Ini juga tentang mengurangi ketergantungan pada jenis pangan tertentu, mengenali potensi daerah sendiri, dan menjaga agar kekayaan pangan kita tidak hilang begitu saja.

Masyarakat Lokal Adalah Penjaga Keberagaman Pangan

Semakin jauh mengikuti pembahasan ini, semakin aku menyadari bahwa keberagaman pangan tidak hadir begitu saja. Ada masyarakat yang menjaga, merawat, dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di ladang masyarakat Dayak Ngaju, hutan menjadi bagian dari sistem pangan. Beragam tanaman ditanam bersama, benih diwariskan, dan banyak tumbuhan memiliki fungsi ganda sebagai sumber pangan sekaligus obat.

Di Papua, masyarakat Marind-Anim memiliki hubungan erat dengan hutan dan satwa yang menjadi bagian dari kehidupan mereka. Mas Ahmad Arif menceritakan perubahan yang terjadi ketika sumber pangan lokal semakin sulit diakses, sehingga masyarakat harus menjual hasil hutan untuk membeli beras dan mi. Dalam cerita tersebut, perubahan itu turut memengaruhi kualitas pangan yang dapat dikonsumsi keluarga.

Ada pula tradisi bubur ambulo di perkampungan nelayan Wuring, yang dibuat dari serbuk ikan untuk anak-anak. Tradisi ini mulai ditinggalkan dan tergantikan oleh makanan instan.

Cerita-cerita tersebut membuatku memahami bahwa pengetahuan lokal bukan sekadar warisan masa lalu yang patut dikenang. Di dalamnya ada cara masyarakat memenuhi kebutuhan gizi, menjaga benih, memanfaatkan sumber daya alam, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Ketika pengetahuan itu hilang, yang lenyap bukan hanya sebuah tradisi. Kita juga berisiko kehilangan cara-cara hidup yang selama ini menopang keberagaman pangan dan menjaga hubungan manusia dengan alam

Tanah Yang Dianggap Kosong, Kehidupan Yang Tak Terlihat

Setelah mendengarkan kedua narasumber, aku akhirnya menemukan benang merah dari seluruh pembahasan ini.

Gambut dianggap lahan terbuang. Hutan di Merauke dipandang sebagai tanah kosong. Sementara itu, ladang masyarakat adat kerap dikaitkan dengan persoalan kebakaran. Padahal, di balik setiap hamparan tanah itu, ada kehidupan yang sudah berlangsung lama. Ada ekosistem yang menjaga keseimbangan alam, ada masyarakat yang menggantungkan hidupnya, ada pengetahuan yang diwariskan, dan ada sumber pangan yang menopang kehidupan.

Mungkin masalahnya berawal dari cara kita melihat suatu tempat.

Ketika kita menganggap sebuah wilayah tidak memiliki nilai, kita menjadi lebih mudah mengabaikan apa yang ada di dalamnya. Hutan hanya dilihat sebagai lahan untuk dibuka. Gambut dianggap sebagai tanah yang belum produktif. Pangan lokal dipandang kalah penting dibandingkan makanan yang sudah lebih umum dikonsumsi.

Padahal, sesuatu yang tidak kita kenali bukan berarti tidak berharga. Aku jadi berpikir bahwa menjaga lingkungan dan memperjuangkan kedaulatan pangan sebenarnya bukan dua hal yang terpisah. Keduanya berangkat dari kesadaran yang sama: menghargai kehidupan yang sudah ada, alih-alih menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa begitu saja digantikan.

Penutup: Mulai Dari Hal Yang Dekat Dengan Kita

Dari webinar ini, aku membawa pulang dua hal penting.

Pertama, gambut harus dijaga agar tetap basah dan ekosistemnya tidak rusak. Kerusakan gambut bukan hanya persoalan tanah yang kehilangan kesuburannya, tetapi juga berkaitan dengan air, karbon, kebakaran, dan kehidupan di sekitarnya.

Kedua, kedaulatan pangan dimulai dari keberanian untuk kembali mengenali dan menghargai kekayaan pangan kita sendiri. Singkong, umbi-umbian, dan berbagai pangan lokal lainnya bukan sekadar alternatif ketika nasi tidak tersedia. Semuanya merupakan bagian dari kekayaan yang telah lama dimiliki masyarakat Indonesia.

Aku tahu, satu tulisan tidak akan menghentikan kebakaran hutan atau mengembalikan tradisi pangan yang telah hilang. Namun, mungkin kepedulian memang bisa dimulai dari hal-hal kecil. Kita bisa mulai dengan mencari tahu lebih banyak tentang gambut melalui bit.ly/PantauGambutID atau warisan pangan Indonesia melalui https://nusantarafoodbiodiversity.org/, mencoba mengonsumsi pangan lokal, mengenali makanan khas daerah sendiri, dan membagikan pengetahuan yang kita dapatkan kepada orang-orang terdekat.

Sebab, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, langkah awalnya sesederhana memahami dari mana makanan kita berasal dan apa yang selama ini menopang kehidupan di sekitar kita.

Setelah mengikuti webinar ini, aku semakin percaya bahwa tidak ada tanah yang benar-benar kosong, tidak ada pangan lokal yang serta-merta kehilangan nilainya, dan tidak ada pengetahuan masyarakat yang layak diabaikan begitu saja.

Karena ketika kita belajar menghargai tanah dan pangan kita sendiri, kita juga sedang belajar menghargai kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Leave a Reply