Ketika Alam Punya Fungsi Ganda: Mangrove Raja Ampat hingga Bambu Nusantara

Beberapa hari lalu, aku berkesempatan mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad bersama The Asia Foundation (TAF). Webinar yang berlangsung pada Jumat, 25 September 2026 ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Daniel Kbarek (Program Officer TAF) dan Wawiyai Steve (Program Manager di Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat/PKPRA). Keduanya membahas bagaimana isu perubahan iklim, kelestarian lingkungan, dan ketahanan pangan saling berkaitan erat.

Selama ini, kalau mendengar kata hutan mangrove, bayangan pertama yang muncul di benakku adalah tumbuhan di pesisir yang berfungsi menahan abrasi ombak laut. Namun, lewat pemaparan narasumber saat itu, aku menyadari bahwa fungsi ekosistem ini jauh lebih besar daripada sekadar pelindung fisik pantai.

Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi wilayah pesisir dari abrasi dan menjadi habitat berbagai jenis biota. Bagi masyarakat Raja Ampat, mangrove juga menjadi sumber pangan, penopang ekonomi, sekaligus fondasi ruang hidup bagi komunitas di sekitarnya.

Mangrove juga bisa disebut dapur alami bagi masyarakat pesisir. Di dalam ekosistem inilah berbagai ikan, kepiting, kerang, hingga buah-buahan tumbuh dan menopang kehidupan sehari-hari.

Kekayaan itu masih dapat dijumpai di Kampung Friwen, Raja Ampat, Papua Barat Daya. Bagi masyarakat setempat, mangrove bukan sekadar hutan yang harus dijaga, melainkan lumbung pangan yang menyediakan beragam bahan makanan. Saat air surut, warga mencari bia atau kerang di sela-sela akar mangrove. Kepiting bakau menjadi hasil tangkapan bernilai ekonomi tinggi, sementara berbagai jenis ikan memanfaatkan kawasan ini sebagai tempat memijah, mencari makan, dan membesarkan anak sebelum berpindah ke laut lepas. Tak heran, kondisi mangrove yang sehat turut mendukung ketersediaan hasil tangkapan nelayan.

Namun, ada satu sumber pangan mangrove yang mungkin belum banyak dikenal: buah mangrove.

Masyarakat Friwen menyebutnya buah aibon, yang termasuk dalam kelompok mangrove Bruguiera. Pada masa lalu, buah ini menjadi salah satu sumber pangan penting bagi masyarakat pesisir Raja Ampat. Menurut para tetua kampung, tepung dari buah aibon sering dijadikan bekal dalam perjalanan karena dapat disimpan dalam waktu lama. Namun, perubahan pola konsumsi dan semakin banyaknya pangan dari luar membuat tradisi ini perlahan ditinggalkan. Kini, hanya segelintir orang yang masih mengetahui cara mengolahnya.

Buah Aibon | Sumber: Mongabay Indonesia

Mengolah buah mangrove membutuhkan kesabaran. Buah aibon tidak bisa langsung disantap karena kandungan taninnya membuat rasanya pahit. Setelah dipetik, kulitnya dikupas, lalu buah direbus untuk mengurangi kadar tanin sebelum ditumbuk hingga menjadi tepung. Sekitar lima kilogram buah dapat menghasilkan kurang lebih dua kilogram tepung, yang kemudian bisa diolah menjadi mi, donat, kue kering, bahkan pizza. Inovasi ini menunjukkan bahwa pangan lokal dapat hadir dalam bentuk yang dekat dengan selera masa kini, tanpa kehilangan nilai tradisinya.

Di balik upaya menghidupkan kembali pangan mangrove ini, ada peran besar para perempuan. Sejak 2014, mama-mama Kampung Friwen memimpin upaya rehabilitasi mangrove setelah menyaksikan ratusan hektare kawasan mangrove rusak akibat penebangan. Mereka menanam kembali bibit mangrove, menjaga kawasan dari perusakan, sekaligus mewariskan pengetahuan tentang pemanfaatan buah mangrove kepada generasi muda.

Kaum perempuan Friwen mengumpulkan buah aibon (Bruguiera sp) | Sumber: Mongabay Indonesia

Kiprah masyarakat Friwen menunjukkan bahwa merawat mangrove tidak berhenti pada menjaga garis pantai atau menyimpan karbon. Hutan pesisir ini juga menjadi bagian penting dari ketahanan pangan masyarakat. Selama ekosistemnya lestari, mangrove akan terus menyediakan ikan, kepiting, kerang, dan buah yang dapat diolah menjadi beragam makanan. Artinya, ketika mangrove dipulihkan, yang tumbuh bukan hanya pepohonan, tetapi juga pangan, pengetahuan lokal, dan kemandirian masyarakat pesisir.

Dari cerita Friwen, aku jadi berpikir: jangan-jangan masih banyak tumbuhan di sekitar kita yang punya peran ganda, tetapi selama ini kita anggap biasa saja. Tumbuhan yang kita lihat setiap hari mungkin bukan sekadar bagian dari lanskap, melainkan juga penjaga ekosistem sekaligus sumber pangan. Salah satunya adalah bambu, yang mungkin tumbuh tidak jauh dari rumah kita.

Buatku, bambu bukan tanaman asing. Di belakang rumah nenekku, serumpun bambu tumbuh di tepi sungai. Sejak kecil, aku sering bermain di dekatnya sambil mendengarkan bunyi batangnya yang berderit tertiup angin. Warga sekitar memakainya untuk pagar dan keperluan sehari-hari, dan bagi kami bambu hanyalah bagian dari pemandangan. Aku bahkan tidak pernah bertanya mengapa tepi sungai itu tidak pernah longsor, padahal jawabannya mungkin ada tepat di depan mata.

Setelah mengikuti webinar, aku mulai melihat bambu dengan cara yang berbeda.

Secara ilmiah, bambu termasuk keluarga rumput-rumputan (Poaceae), subfamili Bambusoideae. Tumbuhan ini tersebar luas di wilayah tropis dan subtropis, termasuk Asia Tenggara, Asia Timur, Afrika, dan Amerika Latin. Di Indonesia, berbagai jenis bambu telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, baik sebagai bahan bangunan, kerajinan, maupun sumber pangan. Bambu petung, bambu ori, dan bambu apus hanyalah beberapa di antaranya.

Sama seperti mangrove, bambu punya peran besar dalam menjaga lingkungan:

  1. Mencegah erosi tanah: akarnya yang rapat dan menjalar mengikat tanah, terutama di lereng dan tepi sungai. Mungkin inilah alasan tepi sungai di dekat rumah nenekku tetap kokoh.
  2. Menyerap karbon dan menghasilkan oksigen: karena tumbuh sangat cepat, bambu disebut lebih efisien menyerap karbon dibanding banyak jenis pohon.
  3. Menjaga tata air: rumpun bambu membantu menyimpan cadangan air tanah.
  4. Menjadi bahan baku ramah lingkungan: mulai dari konstruksi rumah, furnitur, dan kerajinan, hingga alat musik tradisional seperti angklung dan suling.
Bambu | Sumber: Unsplash

Bambu juga menyediakan pangan, yaitu rebung, tunas muda yang baru tumbuh dari rumpun bambu. Rebung kaya serat, rendah kalori, serta mengandung mineral seperti kalium dan antioksidan alami. Di banyak daerah, rebung sudah lama menjadi bahan masakan khas, misalnya lumpia rebung dan sayur lodeh rebung.

Sayur Lodeh Rebung | Sumber: IDN Times

Untukku, rebung adalah rasa rumah. Sayur lodeh rebung buatan nenek hampir selalu hadir saat kami berkumpul, dengan kuah santan gurih dan tekstur rebung yang renyah. Dulu aku hanya tahu bahwa masakan itu enak. Sekarang aku juga tahu bahwa bahan utamanya tumbuh dari tanaman yang ikut menjaga tanah dan air di sekitar kami.

Tunas Bambu | Sumber: Pixabay

Kalau kamu ingin mencoba mengolahnya sendiri, ada satu langkah yang tidak boleh dilewatkan: merebusnya. Rebung dipanen saat masih muda, biasanya sekitar 15-30 cm dari permukaan tanah, sebelum kulitnya mengeras. Kupas kulit luarnya yang keras dan berbulu, lalu rebus sampai matang (sering kali beberapa kali dengan mengganti air rebusan) untuk menghilangkan rasa pahit. Proses ini juga penting untuk keamanan, karena rebung mentah mengandung senyawa sianogenik alami yang bisa berbahaya bila dikonsumsi tanpa diolah dengan benar. Setelah itu, rebung siap ditumis, dijadikan sayur berkuah, isian lumpia, atau acar.

Bambu dikenal sebagai salah satu tumbuhan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dan beberapa spesies tertentu memiliki laju pertumbuhan ekstrem. Di Jepang dan Tiongkok, bambu menjadi simbol ketahanan karena meski lentur diterpa angin, ia jarang patah. Filosofinya sederhana: kuat bukan karena kaku, tetapi karena mampu menyesuaikan diri.

Mungkin itu juga pelajaran dari mangrove dan bambu: yang paling berjasa sering kali justru yang paling jarang kita perhatikan.

Kisah dari Kampung Friwen menunjukkan bahwa menjaga alam dan memberdayakan masyarakat dapat berjalan beriringan. Mangrove bukan hanya ekosistem yang perlu dilindungi, tetapi juga sumber pangan, pengetahuan, dan penghidupan bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

Hal yang sama bisa kita lihat pada bambu. Tumbuhan yang selama ini mungkin kita anggap biasa ternyata punya banyak peran: menjaga tanah, membantu menjaga tata air, menyediakan bahan baku, dan bahkan hadir di meja makan dalam bentuk rebung.

Keduanya mengingatkanku bahwa solusi keberlanjutan tidak selalu harus datang dari sesuatu yang jauh atau rumit. Kadang, jawabannya justru tumbuh di sekitar kita—di tepi pantai, di sepanjang sungai, atau bahkan di belakang rumah nenek.

Yang kita perlukan mungkin bukan hanya teknologi baru, tetapi juga kemauan untuk kembali mengenali apa yang sudah lama hidup berdampingan dengan kita.

Yuk, Jaga Hutan, Jaga Sumber Pangan. Mulai dari langkah kecil: kenali lebih jauh tumbuhan multifungsi di sekitar kita, dukung produk lokal yang lahir dari kearifan lingkungan, dan bagikan cerita tentangnya. Sebab menjaga bumi dan memenuhi kebutuhan hidup bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya bisa tumbuh bersama.

Cheers,

Jastitahn

Leave a comment