Siapa sangka, di tengah hiruk-pikuk Kota Bekasi, ada sebuah tempat yang mampu membawa kita sejenak lebih dekat dengan alam.
Di sana, terbentang kebun seluas 3 hektare yang ditanami beragam jenis tanaman pangan. Bukan sekadar kebun, tempat ini juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat bagaimana pangan tumbuh, dipelihara, dan akhirnya hadir di meja makan kita.
Mengenal Seniman Pangan
Tempat ini bernama Seniman Pangan, yang berlokasi di Ruko Alun-Alun Business Park, Perumahan Vida, Kota Bekasi. Seniman Pangan didirikan pada tahun 2019 sebagai inisiatif dari Javara Indonesia yang bertujuan mentransformasi petani menjadi pengusaha pangan premium dengan pendekatan creative farm/food-preneurship.
Awalnya, Seniman Pangan mendapat tawaran dari pengembang Perumahan Vida. Konsep perumahan ini benar-benar memprioritaskan beberapa persen lahannya untuk ruang hijau, sebuah tawaran yang cukup menarik. Namun, tawaran ini tidak disertai dengan kondisi lahan yang sama menariknya.

Dari Lahan Tandus Menjadi Ruang Hijau
Lahan yang saat ini ditempati dan dikelola Seniman Pangan awalnya berisi berangkal-berangkal serta timbunan sampah. Sampah memang bisa menjadi pupuk kompos alami, tetapi bukan sembarang sampah—bukan tumpukan sampah campuran antara organik dan anorganik. Karena itu, lahan ini awalnya dinilai kurang subur untuk dijadikan lahan produktif.
Meski begitu, berkat kegigihan Seniman Pangan dalam membangun ruang hijau, mereka tetap memutuskan melangkah maju dengan cara yang kreatif. Selain kondisi tanah yang kurang kondusif, hambatan lainnya adalah cuaca di kota ini yang cenderung panas dan kering. Oleh karena itu, mereka menanam pohon trembesi yang menjulang tinggi untuk dijadikan payung yang tidak sepenuhnya menutupi cahaya matahari bagi tanaman-tanaman yang ada di bawahnya.

Menjelajahi Kebun
Di kebun ini, Seniman Pangan menanam beragam jenis tanaman pangan dari berbagai daerah Indonesia. Kebun ini terbagi menjadi dua, yaitu kebun nutrisi dan kebun produksi. Kebun nutrisi ditanami sayuran, buah, atau tanaman obat yang kaya nutrisi, sekaligus dijadikan sebagai kebun edukasi untuk khalayak umum. Ada mint, kumis kucing, terong, jambu kancing, nanas, kemangi, dan masih banyak lagi. Sedangkan kebun produksi berfokus pada hasil panen yang bisa diolah lagi, seperti tebu, singkong, dan bambu.
Bahkan, yang mengejutkan, di kebun ini juga tumbuh tanaman kopi yang berbuah lebat—sesuatu yang mungkin tidak terbayangkan bisa terjadi di kota yang panasnya seperti Bekasi.
Berbagai hasil dari kebun ini diolah dengan baik oleh Seniman Pangan. Selain itu, Seniman Pangan juga memiliki kafe sendiri yang menyediakan berbagai menu hidangan menarik, sekaligus menjual produk-produk ikonik dari berbagai daerah di Indonesia.

Kafe Seniman Pangan ini bisa kamu kunjungi setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WIB. Kalau tertarik, kamu juga bisa mengikuti tur kebun dengan biaya Rp25.000 saja untuk menikmati berbagai kegiatan seru di dalamnya.
Gastronomi: Cara Pandang Baru terhadap Pangan
Lalu, apa yang membuat Seniman Pangan menarik untuk dibicarakan dalam konteks gastronomi? Jawabannya mungkin sederhana: cara pandang terhadap pangan.
Disini, bahan pangan tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang berakhir di atas piring. Setiap bahan memiliki perjalanan, karakter, serta cerita yang melekat di dalamnya. Dari tanah tempat tanaman tumbuh, tangan petani yang merawatnya, hingga kreativitas yang mengubahnya menjadi sebuah sajian—semuanya menjadi bagian dari pengalaman gastronomi. Konsep inilah yang kemudian mempertemukan pertanian, pangan, seni, dan kreativitas dalam satu ruang.
Dari Kebun ke Meja, Ada Cerita di Setiap Bahan
Mungkin selama ini kita terbiasa melihat sayuran, rempah, buah, atau bahan pangan lainnya hanya sebagai bagian dari resep. Padahal, setiap bahan membawa identitasnya sendiri. Ada tanaman yang tumbuh dari pengetahuan turun-temurun. Ada varietas lokal yang jarang dikenal. Ada pula bahan pangan yang selama ini dianggap sederhana, tetapi ternyata memiliki potensi untuk diolah menjadi sesuatu yang bernilai lebih tinggi.
Alih-alih berhenti pada aktivitas bercocok tanam, Seniman Pangan membuka kemungkinan bagi pangan untuk dikembangkan melalui kreativitas. Petani tidak hanya diposisikan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pangan yang memiliki pengetahuan, kreativitas, dan potensi kewirausahaan.
Dengan pendekatan food-preneurship, pangan lokal memiliki kesempatan untuk menemukan bentuk dan pasar baru tanpa harus kehilangan cerita tentang asal-usulnya.
Dari kebun, lahir bahan pangan. Dari bahan pangan, lahir kreativitas. Dan dari kreativitas, lahir pengalaman yang membuat kita melihat makanan dengan cara yang berbeda.
Pengalaman Besama Eco Blogger Squad
Kunjunganku bersama #EcoBloggerSquad ke kebun Seniman Pangan bukan sekadar tur kebun biasa. Di sini, kami melakukan berbagai aktivitas, mulai dari memetik dedaunan untuk bahan masakan, menanam cabai, memanen tebu dan singkong, mengolah daun kemangi dan rosella menjadi produk yang unik, hingga menikmati hidangan yang seluruh bahannya berasal dari kebun.

Setelah melakukan tur kebun, kami diajak untuk membuat sirup daun kemangi dan selai rosella. Aku sama sekali tidak pernah membayangkan kalau daun kemangi yang biasanya dijadikan lalapan ternyata bisa disulap menjadi sirup. Rasanya enak dan segar! Cara mengolahnya pun tidak sulit. Sampai-sampai aku jadi tertarik untuk mencoba membuatnya sendiri di rumah.

Setelah itu, kami diajak mencicipi Hidangan nusantara, rangkaian masakan dari berbagai daerah, yang seluruh bahannya berasal dari kebun yang ada disini. Melihat tampilannya saja sudah menggugah selera, dan rasanya sudah pasti tidak mengecewakan.

- Sambal Tumpang
- Inter Singkong dari Bogor
- Nasi Subut dari Kalimantan
- Ayam Tangkap dari Aceh
- Ikan Goreng
- Tahu Tempe Bacem
- Sate Singkong dengan sambal Kacang dari Mollo NTT
- Perkedel Jagung dari Mollo NTT
- Sambal Beberok dari NTB
- Sambal Terong Belanda dari Sumatera Selatan
- Kerupuk / Emping
- Rujak Aceh
- Sagu Pisang dengan Gelatto dari Papua
Selain melakukan berbagai aktivitas diatas, kami juga diperkenalkan produk-produk ikonik dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari keripik pisang, selai, kopi, madu, gula, garam, jamur, hingga minyak. Dari semua produk yang dipamerkan, ada satu produk yang menarik perhatianku, yaitu garam nipah.
Garam Nipah: Kisah dari Timur Indonesia
Garam nipah, yaitu garam tradisional alami yang berasal dari pembakaran pelepah pohon nipah (Nypa fruticans), tanaman yang banyak tumbuh di kawasan rawa pesisir.
Bagi sebagian orang, garam mungkin hanya dipandang sebagai bumbu untuk memberikan rasa asin pada makanan. Namun, garam nipah menawarkan cerita yang jauh lebih dalam. Garam ini merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat Papua dan sejumlah wilayah di Nusantara, dengan karakter khas, mulai dari warna kehitaman hingga cita rasanya.
Kisah garam nipah ini hadir lewat sosok Ibu Yuyun, seorang perempuan paruh baya yang berasal dari suku Moi di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Pada tahun 2020, Ibu Yuyun mendirikan UMKM Sinagi Papua dengan memanfaatkan tanaman nipah yang tumbuh di lingkungan pesisir sekitar tempat tinggalnya untuk diolah menjadi garam nipah.
Ide ini tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan lahir dari kecintaannya terhadap pangan lokal leluhurnya yang sejak dahulu sudah menggunakan garam nipah sebagai bumbu asin. Hanya saja bentuk olahannya masih berupa serbuk hitam layaknya serpihan arang atau yang dikenal sebagai garam hitam.
Berbekal kecintaan pada pangan lokal dan keinginan untuk melestarikan warisan leluhur tersebut, Ibu Yuyun bersama Seniman Pangan melakukan berbagai riset dan uji coba selama berbulan-bulan. Dari proses panjang itu, mereka berhasil mengembangkan metode pengolahan yang mampu mengubah abu garam hitam menjadi butiran garam putih yang lebih layak dan mudah diterima untuk dikonsumsi.
Kini, hasil pengembangan tersebut dikenal sebagai bumbu asin nipah, yang memiliki karakteristik khas serta kandungan sodium yang lebih rendah, dan menjadi salah satu produk unggulan Sinagi Papua. Kamu bisa menemukan produknya di Kafe Seniman Pangan ini atau bisa membelinya di marketplace yaa!
Perjalanan pengembangan garam nipah bersama Seniman Pangan tidak hanya menghasilkan inovasi produk. Lebih dari itu, proses ini menunjukkan bagaimana pengetahuan dan pangan lokal dapat dikembangkan melalui riset dan inovasi tanpa kehilangan akar budayanya.
Kreasi tersebut turut membuka peluang bagi masyarakat lokal untuk memperkenalkan potensi pangan khas Papua kepada khalayak yang lebih luas. Dari tradisi yang diwariskan leluhur, garam nipah kini bertransformasi menjadi produk pangan inovatif yang memiliki nilai tambah, sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan pangan lokal dan kearifan masyarakat Papua.

Penutup
Kalau ditanya apa yang paling aku ingat dari kunjungan ini, jawabannya bukan cuma sirup kemangi yang segar atau belasan hidangan Nusantara yang memanjakan lidah. Yang paling membekas justru cara Seniman Pangan mengubah caraku memandang bahan makanan sehari-hari. Bahwa dibalik sehelai daun kemangi atau sebutir garam, selalu ada tanah, tangan dan cerita yang menyertainya. Rasanya susah pulang dari sini dan kembali memandang piring makan dengan cara yang sama seperti sebelumnya.
Seniman Pangan menjadi tempat yang wajib dikunjungi oleh siapapun yang tertarik dengan diversifikasi pangan. Sebab dengan datang kesini, kamu turut mendukung pelestarian berbagai bahan pangan lokal.
Merawat pangan lokal tidak harus dimulai dari langkah besar. Dari memilih bahan pangan asli daerah, mendukung produk UMKM seperti Sinagi Papua, hingga sekadar mengenal cerita di balik setiap bahan yang kita konsumsi—semua itu adalah bentuk nyata menjaga keberlanjutan pangan dan kearifan lokal. Sudah saatnya kita melihat pangan bukan hanya sebagai kebutuhan, tetapi sebagai warisan yang patut dijaga bersama.
Cheers,
Jastitahn