Nyamannya Menginap di The House Tour Hotel-Uphill

The House Tour Hotel – Uphill, hotel dengan desain aesthetic yang berkonsep modern vintage pada setiap sudutnya.

Bandung merupakan salah satu kota yang selalu ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Setiap weekendnya, banyak sekali kendaraan plat B yang datang kesini. Entah untuk sehari ataupun dua hari, Bandung memiliki keistimewaan sendiri. Banyaknya tempat wisata dan kuliner yang memikat hati menjadikan Bandung sebagai kota yang tak pernah sepi. Apalagi saat ini mulai banyak dibangun hotel-hotel aesthetic yang instagram-able yang menjadi incaran bagi anak muda, traveler, ataupun seseorang yang ingin staycation, salah satu hotel aesthetic yang ada di Bandung adalah The House Tour Hotel – Uphill.

The House Tour Hotel adalah bagian dan Maja Family yang terkenal dengan konsep hotel maupun restaurant yang bertema modern vintage. The House Tour Hotel memiliki 3 lokasi, yaitu Downtown, Midtown, dan Uphill. Ketiga hotel ini pastinya membuat kamu tak berhenti untuk berdecak kagum.

Kunjungan ku ke Bandung beberapa waktu lalu, aku memiliki kesempatan untuk menginap semalam di The House Tour Hotel Uphill. Awalnya aku tidak mengetahui adanya hotel se-aesthetic ini, namun sehari sebelum berangkat aku iseng mencari tahu melalui instragmnya dan ternyata membuat ku tersenyum melihat konsep yang dimilikinya.

Alamat The House Tour Hotel Uphill

Hotel ini berada di dekat kawasan Lembang, tepatnya di Jl. Terusan Sersan Bajuri No.72, Cihideung, Kec. Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40559

Reception Area

Ketika sampai di hotel ini, kebetulan gerimis baru saja turun. Satpam yang berada di lokasi bergegas memberikan payung dan mengarahkan untuk ke area resepsionis yang letaknya dilantai 2. Area resepsionisnya tidak telalu besar,namun desainnya cukup menarik. Dengan kayu pada bagian mejanya, dinding yang berwarna hijau sacramento, dan dua lampu yang menggantung. Terasa hangat dilihat oleh mata.

Reception Area - The House Tour Hotel Uphill
Reception Area

Yang lebih cantiknya lagi, di depan area resepsionis ini adalah resto yang bernama darjeeling restaurant, untuk kita breakfast ataupun makan malam disini. Baru melihat dindingnya saja sudah membuatku jatuh hati. Perpaduan elemen yang sangat menarik!

Resto - The House Tour Hotel Uphill
Resto – The House Tour Hotel Uphill

Medium Room With Bathtub

Tipe kamar di The House Tour Hotel – Uphill ini terdiri dari 5 tipe, yaitu Loft (yang terbagi menjadi ukuran Medium, Large, Extra Large), Cabin, Medium (Standard dan Bathub), Extra Large dan The Barn. Cukup banyak yaa tipenya! Semua tipenya ini memiliki konsepnya masing-masing yang pastinya unik, dan tentunya juga disesuaikan dengan luas kamarnya. Aku mendapat kamar yang tipe Medium Bathub. Tipe Medium ini adalah tipe yang termurah dibandingkan dengan tipe lainnya. Namun dalamnya tetap membuatku mengacungkan jempol. Setiap sudut dan elemen yang ada di konsepkan secara detail dan fasilitasnya pun lengkap! Duh rasanya jadi punya kamar seperti ini nanti.

Karena kamar mandinya memiliki Bathtub, dan layoutnya pun benar-benar dibuat perfect! Letak Bathub nya menghadap area TV, dilengkapi jendela geser yang bisa dibuka. Jadi kita bisa chill berendam sambil menonton film. Ohyaa TV nya pun dilengkapi dengan Netflix. Seru banget! Bikin betah banget buat berlama-lama disini hihi

Baca juga: Daun Lebar Villas, Amazing Villa To Stay in Ubud, Bali

Fasilitas kamarnya pun lengkap. Mulai dari toiletries, teko listrik serta air putih, teh dan kopi, juga dua pasang sandal. Ada sofa panjang dan meja kecil juga disamping kasur. Lalu ada balkonnya juga yang dimana view nya adalah pohon-pohon pinus. Waah benar-benar worth it!

Darjeeling Restaurant

Sarapan di Darjeeling Restaurant yang ada di The House Tour Hotel – Uphill ini konsepnya prasmanan seperti pada hotel biasanya. Makanannya pun enak-enak! Mulai dari appetizer, main course hingga dessert ga ada yang mengecewakan. Apalagi desain resto nya ini benar-benar ciamik, yang semakin membuat sarapan terasa menyenangkan.

Harga The House Tour Hotel – Uphill

Harga menginap di The House Tour Hotel – Uphill ini mulai dari 600 ribu – 2 juta/ malam. Dengan konsep unik yang di desain pada setiap ruangannya sesuai dengan tipe kamar yang dipesan dan fasilitas yang lengkap juga nyaman tentunya worth it untuk bermalam disini.

Kesimpulan 

Menginap semalam di The House Tour Hotel – Uphill ini sangat menyenangkan bagiku. Dimanjakan dengan desain aesthetic yang berkonsep modern vintage pada setiap sudutnya menjadikan pengalaman menginap disini begitu terasa hangat dan nyaman. Menurutku hotel ini cocok sekali untuk honeymoon ataupun ber-staycation bersama pasangan ataupun keluarga. Buat kamu yang ke memiliki rencana ke Bandung, jadikan The House Tour Hotel – Uphill ini sebagai penginapan untuk melepas lelah.

Cheers,

Jastitahn

Advertisement

Pasar Baru Walking Tour

Berjalan-jalan sambil belajar mengenai sejarah gedung/tempat yang dilewati adalah salah satu hal yang menyenangkan. Setelah sebelumnya melakukan walking tour ke Glodok dan Menteng, keinginan ku untuk melakukan hal seperti ini lagi semakin bertambah. Beberapa kali research untuk menemukan rute rute yang bisa di jelajahi. Ternyata banyak sekali kawasan di Jakarta yang memiliki nilai sejarah dan cocok untuk di coba. Nah kali ini, aku bersama temanku melakukan walking tour ke Pasar Baru. Yeayyy!

Apa yang bisa kita lihat di kawasan Pasar Baru ini?

Waah ternyata cukup banyak! Dari mulai sekolahan, kantor berita, tempat ibadah dan lainnya. Berikut ini perjalanan walking tour ku di Pasar Baru.

1. Stasiun Juanda

Titik awal untuk walking tour Pasar Baru adalah Stasiun Juanda. Stasiun Juanda adalah stasiun KRL yang melayani jalur Jakarta Kota-Bogor, yang mulai beroperasi pada tahun 1992. Kamu pasti sudah tau kalau Stasiun ini memiliki warna khas biru yang menyegarkan mata.

Stasiun Juanda

2. Sekolah Santa Ursula

Dari stasiun Juanda, kamu bisa berjalan ke arah timur untuk melihat sekolah Santa Ursula. Dulunya sekolah ini adalah sebuah kapel. Pada masa penjajahan Belanda, mereka menyebarkan agama kristen dan mendatangkan 7 Biarawati. Biarawati inilah yang akhirnya menginisiasi terbentuknya sekolah perempuan, yang sekarang bernama Sekolah Santa Ursula.

Sekolah Santa Ursula

3. Gedung Filateli

Disebelah Sekolah Santai Ursula, terdapat sebuah bangunan khas Belanda yang mirip dengan Stasiun Jakarta Kota. Gedung ini dibangun pada tahun 1860-an. Awalnya gedung ini digunakan Belanda sebagai kantor pos dan telegram sebagai alat komunikasi pada masa itu. Namun sejak Indonesia berhasil merebut kemerdekaan, gedung ini berubah fungsi menjadi Museum Perangko Jakarta atau Gedung Filateli. Seiring berjalannya waktu, kini Museum ini dialihfungsikan menjadi sebuah public space kekinian yang dinamakan Pos Bloc Jakarta.

Gedung Filateli Jakarta

4. Gedung Kesenian Jakarta

Selanjutnya, disamping Gedung Filateli Jakarta terdapat sebuah Gedung dengan gaya art deco. Dimana dalam perjalanannya, gedung kesenian ini banyak merubah nama. Pada tahun 1809, gedung ini bernama Mini Simple Theater yang pada waktu itu masih beratapkan rumbia. Lalu, berganti nama lagi menjadi Showburg. Setelah Jepang mengambil alih kekuasaan pada tahun 1943, gedung ini dijadikan sebagai markas angkatan darat, sehingga banyak terjadi kerusakan gedung bahkan kehilangan patung-patung di dalamnya. Sayang banget ya! Tapi setelah Jepang pergi, gedung ini kembali dijadikan gedung pertunjukan dengan nama Gedung Kesenian Jakarta.

Gedung Kesenian Jakarta

5. Galeri Foto Jurnalistik Antara

Setelah melihat gaya arsitektur Gedung Kesenian Jakarta, kamu perlu menyebrang melalui jembatan penyebrangan yang berada disebelah halte Trans Jakarta Pasar Baru. Namun tidak jauh dari gerbang belakang Pasar Baru, ada sebuah Galeri yang merupakan Galeri Foto Jurnalistik Antara.

Sebelum menjadi Galeri Foto Jurnalistik Antara, dulunya galeri ini dijadikan sebagai Kantor Berita Antara yang dinasionalisasi dalam melakukan penyebaran berita tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke berbagai penjuru dunia. Kemudian gedung ini diresmikan menjadi sebuah galeri yang didalamnya terdapat berbagai koleksi, seperti foto, buku, hingga benda-benda bersejarah seperti mesin tik dan sepeda pada tahun 1992.

Kalau beruntung, biasanya galeri ini menampilkan karya karya dari para Jurnalistiknya Antara dalam periode tertentu.

Baca juga: Bandung Walking Tour

6. Pasar Baru

Siapa sih yang gatau Pasar Baru? Dulunya kawasan Pasar Baru ini merupakan kampung orang-orang India. Tapi semenjak Belanda mendatangkan etnis Tionghoa dari Macau untuk menghidupkan sektor ekonomi di Batavia, peradaban India lama-lama memudar.

Pasar Baru pada masanya adalah pusat perbelanjaan kaum elite. Ibaratnya kalau mau dianggap sosialita, belanjanya harus di Passer Baroe. Biasanya pelanggan di Pasar Baru adalah orang-orang Belanda yang tinggal di Weltevreden. Pada gerbang Pasar Baru terdapat angka 1820 yang menandakan tahun berdirinya pusat perbelanjaan ini. Toko-toko di sini dibangun dengan gaya arsitektur Tiongkok dan Eropa.

Memasuki Pasar Baru ini, banyak terdapat  bangunan bersejarah, seperti Toko Kompak, toko sepatu Toronto dan Canada, toko sepatu Sin Lie Seng, Klenteng Sin Tek Bio, gedung bekas tempat produksi jamu Nyonya Meneer, hingga kuliner yang legendaris.

Pasar Baru

7. Gereja Pniel

Masih di kawasan Pasar Baru, ada sebuah Gereja tua yang dibangun sejak tahun 1913 – 1915. Gereja ini dinamakan Gereja Pniel atau disebut juga Gereja Ayam. Kok dinamakan Gereja Ayam? Iyaa, karena dipuncak kubahnya terdapat petunjuk arah mata angin dengan simbol ayam. Gereja ini merupakan perluasan dari kapel kecil yang sudah ada sejak 1850.

Gereja Pniel

Nah, begitulah kira-kira rute walking tour Pasar Baru. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Mungkin lain kali akan ku coba eksplor lebih dalam lagi. Tertarik kah kamu untuk mencobanya? Atau sudah pernahkah kamu mencoba walking tour di kotamu? Sharing yuk! Selamat menjelajah~

Cheers,

Jastitahn