Perjalanan ke Sabang, Titik 0 KM Barat Indonesia

Indonesia terdiri dari 17.508 pulau, yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Gugusan pulau-pulau besar dan kecil membuat Indonesia menjadi negara yang sangat unik. Salah satu mimpiku sejak lama adalah ingin mengunjungi titik nol Barat, Timur, Utara dan Selatan Indonesia. Yang sebenarnya aku sendiri pun gatau kapan akan terlaksana. Mimpi dulu aja ya kaan.

Tapi aku selalu percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin asal kita mau terus berusaha.

Dan Alhamdulillah, dengan berbagai perjuangan yang luar biasa, beberapa waktu lalu aku berhasil mengunjungi Kota Sabang dan menuju ke Tugu Titik 0 KM Indonesia. Aku hampir menangis tak percaya ketika berada disana. Sungguh ini benar adanya, aku bisa berada disini.

Perjalananku dimulai dari obrolan random teman tripku waktu ke Labuan Bajo. Dia mengajakku ke Medan saat itu, namun ketika aku berpikir kembali aku mengusulkan bagaimana jika ke Banda Aceh dan Sabang saja, dan senangnya merekapun menyetujuinya. Wow aku sangat excited untuk bisa kesini!

Untuk menuju Sabang, kita harus menyebrang menggunakan kapal dari Pelabuhan Ulee Lheue di Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan. Terdapat 2 jenis kapal, yaitu kapal lambat dan kapal cepat. Bedanya tentunya pada jarak tempuh dan fasilitas didalamnya. Perginya aku menggunakan kapal lambat, dengan harga Rp 28.800 yang ditempuh dengan waktu 2 jam.

Kapal Lambat Penyebrangan Aceh - Sabang

Perjalanan menuju Pelabuhan Balohan ini disuguhkan dengan pemandaagan yang indah. Perbukitan hijau yang membentang, air laut dan ombak yang tenang, angin yang berhembus dengan halus, serta langit yang biru sedikit awan membuat perjalanan ini begitu menyenangkan.

Sesampainya di pelabuhan, kami dijemput oleh driver yang bernama Pak Zoel. Ia adalah orang asli Sabang, dan ramah banget! Kalau yang mau contactnya bisa DM aku melalui instagramku yaa 🙂

Tugu Kota Sabang di Pelabuhan Balohan

Akupun sudah membuat list beberapa tempat wisata di Sabang yang akan kita kunjungi, yang dimana tujuan utama kita adalah Tugu KM 0 Indonesia. Iyaa, itu sebagai tujuan pertama kami, yang ditempuh kira-kira 40KM dari pelabuhan, dengan jalanan yang yang berkelok dan menanjak. Tapi aku sangat menikmatinya.

Tibalah kami di tugu KM 0 ini. Begitu pertama kali melihatnya, aku menatap cukup lama, tidak mengalihkan pandanganku kearah sekitar. “Terimakasih yaAllah.. aku bisa berada disini saat ini” ucapku dalam hati. Tak henti-hentinya ku ucapkan syukurku pada-Nya.

Sabang – KM Nol Indonesia

Disini kita dapat melihat sekelompok monyet-monyet liar di sepanjang jalan lho! Monyet-monyet tersebut menatap setiap kendaraan yang melintas di hadapan mereka, berharap mendapat makanan dari para wisatawan yang berkunjung. Jadi berhati-hati yaa!

Aku beberapa kali baca mengenai Tugu KM 0 Sabang ini memiliki ketinggian 43,6 meter di atas permukaan air laut. Sementara itu, bangunan monumennya memiliki beberapa filosofi, yaitu empat pilar yang menjadi penyangga merupakan simbol dari batas-batas negara Indonesia, Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Adapun yang lingkaran besar yang ada di tugu merupakan analogi dari angka 0.

Pada Monumen Kilometer Nol juga terdapat ornamen yang berbentuk segi delapan yang menggambarkan delapan penjuru mata angin. Tak hanya itu, pada bangunan dari monumen ini juga terdapat senjata rencong yang menjadi simbol bahwa masyarakat Aceh turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ohya akupun sebenarnya dikasih tau oleh bang riski tour guide laut kami, kalau sebenarnya titik 0 Indonesia itu bukan tugu KM 0 yang ada itu. Ada pulau lain yang berada di ujung barat terluar Indonesia, yaitu Pulau Rondo, pulau sejauh 15 kilometer dari Sabang yang memiliki tugu 0 Kilometer sesungguhnya. Pulau ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Tapi untuk menuju kesana pun sangat sulit. Katanya sih harus menumpang kapal patroli TNI yang berjaga di pulau tak berpenghuni itu. Itupun harus disambung lagi dengan perahu karet karena perairan berkarang dan harus berjalan kaki menembus hutan menaiki pulau yang berbentuk seperti tempurung kelapa.

Keputusan menetapkan Sabang sebagai titik 0 kilometer karena akses yang lebih mudah dan konon katanya Pulau Rondo memiliki cadangan kekayaan alam yang besar sehingga tak sembarang orang bisa menginjakkan kaki di sana.

Tentunya karena sudah disini, aku perlu mengabadikan momen dengan memotretnya dan membuat sebuah video. Kalian juga bisa liat nih video di reels instagramku hehe betapa bersyukurnya aku.

Menginjakkan kaki disini adalah salah satu anugerah terindah bagiku dan mimpiku satu per satu bisa terceklis. Aku tak henti-hentinya bersyukur atas nikmat yang diberikan. Terimakasih Allah untuk segalanya 🙂

Nah untuk wisata Sabang lainnya, tunggu di post-an ku berikutnya yaaa!

Cheers,

Jastitahn

Advertisement

Wisata di Banda Aceh yang Bisa Kamu Kunjungi

Destinasi wisata menarik yang bisa dikunjungi di Banda Aceh.

Beberapa waktu lalu, aku pergi ke Aceh & Sabang bersama dengan temanku. Seperti yang kita tau, Kota Banda Aceh yang dikenal sebagai nama Serambi Mekah. Ternyata di kota ini memiliki banyak pilihan wisata menarik yang bisa kamu kunjungi lho. Mulai dari wisata sejarah hingga wisata alam yang begitu memukau.

Lalu destinasi wisata menarik apa saja yang bisa dikunjungi di Banda Aceh? Cek daftarnya di bawah ini yuk!

Masjid Raya Baiturrahman

Sejarah Aceh tentunya tidak bisa lepas dari peradaban dan budaya Islam. Masjid Raya Baiturrahman merupakan simbol agama, budaya, semangat, perjuangan, dan nasionalisme rakyat Aceh karena masjid tersebut selamat dari bencana tsunami pada 26 Desember 2004 silam menjadi tempat evakuasi warga.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman ini didominasi warna putih dengan 7 kubah yang besar. Kubah besarnya yang berwarna hitam dan dilengkapi dengan 12 payung elektrik di halaman masjid yang menyerupai Masjid Nabawi di Madinah.

Wisatawan yang berkunjung ke masjid ini biasanya menghabiskan waktu dengan mempelajari sejarah masjid, menikmati keindahan arsitekturnya, dan mengabadikan foto di kawasan masjid.

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek asal Bandung sekaligus Gubernur Jawa Barat yaitu Pak Ridwan Kamil sebagai monumen simbolis untuk bencana gempa bumi dan tsunami pada 2004 silam. Selain menjadi monumen simbolis, museum ini juga dijadikan sebagai pusat pendidikan bencana dan tempat perlindungan darurat apabila tsunami terjadi lagi.

Museum Tsunami Aceh

Dari samping, bangunan museum ini terlihat kapal penyelamat besar dengan geladak yang luas. Namun apabila dilihat dari atas, bangunan ini terlihat menyerupai gelombang tsunami. Karena desain dan makna museum ini, Museum Tsunami Aceh menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Banda Aceh bagi wisatawan.

Sayangnya saat kemarin aku berkunjung kesini, Museum ini sedang dilakukan renovasi yang belum tau sampai kapan. Jadi belum melihat keindahan dalamnya museum ini 😦

Museum PLTD Apung

Monumen PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) ini merupakan salah satu saksi bisu bencana tsunami pada 2004 silam. Pada saat kejadian tsunami, kapal apung PLTD seberat 2.600 ton yang tadinya berada di laut ini terseret ombak tsunami dari wilayah perairan Ulee Lheue sejauh 5 kilometer menuju pusat Kota Banda Aceh.

Ketika pertama kali masuk, terdapat Tugu Monumen Tsunami.  

Tugu Monumen Tsunami
  • Di bagian atas monumen terdapat jam bundar yang menunjukkan tanggal terjadinya bencana tsunami, yaitu 26 Desember 2004, pukul 07:55 WIB.
  • Di bagian bawah berisikan nama-nama korban jiwa di lima dusun.
  • Di bagian belakang terdapat relief yang menggambarkan bagaimana kapal PLTD Apung ini bisa terdampar

Kapal Atas Rumah Lampulo

Kapal dengan panjang 25m, lebar 5,5m dan berat 65 ton ini terdampar sejauh 1 KM dari tempat dockingnya dan tersangkut di atas rumah penduduk. Pada saat kejadian tsunami 2004 itu, atas izin Allah kapal ini menyelamatkan 59 warga dalam didalamnya, termasuk si pemiliki rumah. Didalamnya pun, terdapat beberapa  galeri foto tsunami. Dan juga nama-nama korban jiwa Warga Lampulo.

Rumah Cut Nyak Dien

Siapa yang ga kenal Cut Nyak Dien? Pahlawan wanita dari Aceh yang punya semangat yang tinggi dalam melawan Belanda kala itu. Rumah ini terletak di Desa Lampisang, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar.

Rumah yang sekarang jadi museum ini bisa kamu datangi dengan berkendara sekitar 10 KM dari pusat Kota Banda Aceh atau sekitar 20 menit perjalanan. Rumah Cut Nyak Dien ini dibangun seperti aslinya. Berbentuk rumah adat Aceh, dengan dominasi warna hitam dan ukiran berwarna emas. Tiap ruangan dan fasilitas yang ada pun dibuat sama.

Rumah Cut Nyak Dien

Kalau kamu datang ke rumah ini, kamu akan melihat sejarah perjuangan masyarakat Aceh melalui koleksi foto, senjata yang digunakan kala itu, hingga manuskrip yang didatangkan dari Belanda. Selain itu, kamu juga bisa melihat bagaimana silsilah kekeluargaan Cut Nyak Dien. Tiap ruangan yang ada dibuat sangat mirip, termasuk meja kerja yang digunakan untuk menyusun strategi hingga kamar Cut Nyak Dien yang dibuat tanpa menambah atau mengurangi satu elemen pun.

Kubah Masjid sisa Tsunami.

Kubah dengan berat 80 ton ini terombang-ambing oleh gelombang tsunami melewati pemukiman warga sejauh 2,5 KM dan terdampar di Desa Gurah. Di sekelilingnya, terdapat pemandangan yang menyegarkan, yaitu bentangan sawah yang dikelilingi bukit-bukit.

Kubah Masjid Sisa Tsunami

Kuburan Massal Tsunami

Kuburan Tsunami Massal jadi saksi dahsyatnya tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Lokasinya sebenarnya tersebar di 4 lokasi di Aceh, namun yang aku datangi ini yang berada di halaman bekas Rumah Sakit Umum Meuraxa. Dekat dengan Pantai Ulee Lheue.

Nah itu dia beberapa tempat wisata yang aku datangi di Banda Aceh. Karena flight kami juga sampainya siang, jadi ga bisa untuk explore ke pantainya. Pantai di Aceh juga bagus-bagus loh ternyata, seperti pantai Lampuk dan pantai Lhokga. Tapi karena waktunya singkat, jadi aku tidak kesana. Tapi so far, berwisata ke Banda Aceh seru bangettt!

Ditambah serunya lagi, aku belajar banget dari kota ini untuk selalu mengutamakan Allah. Setiap kali adzan berkumandan atau bahkan beberapa saat sebelum waktunya adzan, semua tempat wisata, toko dan restoran disini benar-benar ditutup sementara. Layaknya di mekkah. Aku kagum sekali dengan budaya yang ada disini.

Cheers,

Jastitahn